Profile Sekolah

Tahun lalu SDN Gentan 02 mendapatkan kejuraan sepak bola yang di selenggarakan oleh kecamatan Bendosari. Kejuaraan itu di ikuti oleh anak- anak dengan penuh semangat dan di dukung oleh guru dan wali murid secara aktif. Allahamdulillah SDN Gentan 02 mendapatkan Juara 2 dalam kejuaraan tersebut, dimana turnamen tersebut di ikuti 43 SD/ MI yang tersebar di seluruh kecamatan Bendosari.

Sholat Berjamaah

Di SDN Gentan 02 mungkin lain dari pada SD Negeri di wilayah Bendosari khusunya dan Sukoharjo umumnya. SDN Gentan 02 selain mempunya program tentang budhi pekrti dan pengetahuan juga tidak lupa dari segi keagamaam.

Pembelajaran Berbasis Tehnologi dan Informasi

Perkembangan tekhnologi di dunia ini semakin cepat. Seorang pendidikan di wajibkan mengikutu perkembangan tekhnologi pendidikan khusus nya dalam pengajaran.Manfaat menggunakan tehnologi pendidikan sangat banyak sekali

Pembelajaran Pendekatan Saintifik

Untuk meningkatkan prestasi siswa siswi banyak sekali pendekatan dan metode pembelajaran yang di gunakan. Salah satu pendekatan yang kami gunakan yaitu pendekatan Saintifik. Pembelajaran pendekatan Saintifik yaitu kegiatan yang dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

Prestasi SDN Gentan 02 Bidang Olah Raga

Tahun lalu SDN Gentan 02 mendapatkan kejuraan sepak bola yang di selenggarakan oleh kecamatan Bendosari. Kejuaraan itu di ikuti oleh anak- anak dengan penuh semangat dan di dukung oleh guru dan wali murid secara aktif. Allahamdulillah SDN Gentan 02 mendapatkan Juara 2 dalam kejuaraan tersebut, dimana turnamen tersebut di ikuti 43 SD/ MI yang tersebar di seluruh kecamatan Bendosari.

6 Des 2013

Pengertian Teknik

Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara yang bagaimana yang harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan efektif dan efisien? Dengan demikian sebelum seorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi.


Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Pengertian Metode

METODE


Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Metode  adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran.


Metode merupakan langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan belajar, sehingga bagi sumber belajar dalam menggunakan suatu metode pembelajaran harus disesuaikan dengan jenis strategi yang digunakan. Ketepatan penggunaan suatu metode akan menunjukkan fungsionalnya strategi dalam kegiatan pembelajaran. Istilah metode dapat digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, sebab secara umum menurut kamus Purwadarminta (1976), metode adalah cara yang telah teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode berasal dari kata method (Inggris), artinya melalui, melewati, jalan atau cara untuk memeroleh sesuatu.


Berdasarkan pengertian tersebut di atas jelas bahwa pengertian Metode pada prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal ini dapat menyangkut dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, maupun keagamaan. Unsur–unsur metode dapat mencakup prosedur, sistimatik, logis, terencana dan aktivitas untuk mencapai tujuan. Adapun metode dalam pembahasan ini yaitu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistimatik dan disengaja untuk menciptakan kondisi-kondisi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut tidak dapat lepas dari interaksi antara sumber belajar dengan warga belajar, sehingga untuk melaksanakan interaksi tersebut diperlukan berbagai cara dalam pelaksanaannya. Interaksi dalam pembelajaran tersebut dapat diciptakan interaksi satu arah, dua arah atau banyak arah. Untuk masing-masing jenis interaksi tersebut maka jelas diperlukan berbagai metode yang tepat sehingga tujuan akhir dari pembelajaran tersebut dapat tercapai. Metode dalam pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan materi saja, sebab sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran mempunyai tugas cakupan yang luas yaitu disamping sebagai penyampai informasi juga mempunyai tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran sehingga warga belajar dapat belajar untuk mencapai tujuan belajar secara tepat. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.



Berdasarkan hal tersebut maka kedudukan metode dalam pembelajaran mempunyai ruang lingkup sebagai cara dalam:




  1. Pemberian dorongan, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam rangka memberikan dorongan kepada warga belajar untuk terus mau belajar.

  2. Pengungkap tumbuhnya minat belajar, yaitu cara dalam menumbuhkan rangsangan untuk tumbuhnya minat belajar warga belajar yang didasarkan pada kebutuhannya.

  3. Penyampaian bahan belajar, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam menyampaikan bahan dalam kegiatan pembelajaran

  4. Pencipta iklim belajar yang kondusif, yaitu cara untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi warga abelajar untuk belajar

  5. Tenaga untuk melahirkan kreativitas, yaitu cara untuk menumbuhkan kreativitas warga belajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya

  6. Pendorong untuk penilaian diri dalam proses dan hasil belajar, yaitu cara untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran

  7. Pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar, cara untuk untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.


Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Pengertian Strategi

STRATEGI


Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (J.R. David dalam  Sanjaya, 2008:126).  Selanjutnya dijelaskan strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kemp dalam Sanjaya, 2008:126).  Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang selalu sama.


Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Strategi dalam kegiatan pembelajaran dapat diartikan dalam pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. Dalam pengertian sempit bahwa istilah strategi itu sama dengan pengertian metode yaitu sama-sama merupakan cara dalam rangka pencapaian tujuan. Dalam pengertian luas sebagaimana dikemukakan Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:




  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.

  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.

  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.

  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.



Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:




  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.

  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.

  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.

  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.


Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.


Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Pengertian Pendekatan

PENDEKATAN


Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif  (Sanjaya,  2008:127).


Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).


Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif  (Sanjaya,  2008:127).

INSTRUMEN SUPERVISI PEMBELAJARAN TEMATIK

 

INSTRUMEN SUPERVISI PEMBELAJARAN TEMATIK

 

1. Nama Guru             :

2. Kelas                        :

3. Nama Sekolah         :

 




























































































































































































































































































































































Aspek yang Diamati



Ya



Tidak



Catatan


Kegiatan Pendahuluan   
Melakukan apersepsi dan motivasi   
aMenyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam  mengawali kegiatan pembelajaran.   
bMengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik dalam perjalanan menuju sekolah atau dengan tema  sebelumnya.   
cMengajukan pertanyaan yang ada keterkaitan dengan tema yang  akan dibelajarkan.   
dMengajak peserta didik berdinamika/melakukan sesuatu kegiatan yang terkait dengan materi.   
Kegiatan Inti   
Guru menguasai materi  dalam tema yang disajikan   
a.Kemampuan menyesuaikan materi dalam tema dengan tujuan pembelajaran.   
b.Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang diintegrasikan secara relevan dengan perkembangan Iptek dan kehidupan nyata .   
c.Menyajikan pembahasan materi pembelajaran dalam tema yang dibelajarkan dengan tepat.   
d. Menyajikan materi dalam tema secara sistematis  dan gradual (dari yang mudah ke sulit, dari konkrit ke abstrak)   
Guru menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik   
a. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.   
b.Melaksanakan pembelajaran secara runtut.   
c.Menguasai kelas dengan baik.   
d.Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual.   
e.Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect).   
f.Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan.   
Guru menerapkan pendekatan scientific   
aMemberikan pertanyaan mengapa dan bagaimana.   
bMemancing peserta didik  untuk peserta didik bertanya.   
cMenyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengamati.   
dMenyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan menganalisis.   
fMenyajikan kegiatan peserta didik untuk keterampilan mengkomunikasikan.   
 Guru melaksanakan penilaian autentik   
aMengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam mengikuti pelajaran.   
bMelakukan penilaian keterampilan peserta didik dalam melakukan aktifitas individu/kelompok.   
cMendokumentasikan hasil pengamatan skap, perilaku dan keterampilan peserta didik.   
Guru memanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran   
a.Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar  pembelajaran.   
b.Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan  media pembelajaran.   
c.Menghasilkan pesan yang menarik.   
d.Melibatkan peserta didik dalam   pemanfaatan sumber belajar pembelajaran.   
e.Melibatkan peserta didik dalam   pemanfaatan   media pembelajaran.   
Guru memicu dan/atau memelihara keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran   
a. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru, peserta didik, sumber belajar.   
b.Merespon positif partisipasi peserta didik,   
c.Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik,   
d.Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif.   
e.Menumbuhkan keceriaan dan antusisme peserta didik dalam belajar.   
Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran   
a.Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar.   
b.Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar.   
c.Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai.   
  Penutup Pembelajaran
Guru mengakhiri pembelajaran dengan efektif   
a.Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik.   
b. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan.   

 

 

 

Sukoharjo, …………………………………..


           Supervisor


Nama

4 Des 2013

Kebijakan Siswa SD Wajib Naik Kelas

Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mencanangkan semua siswa SD harus naik kelas dikhawatirkan sejumlah pihak. Pasalnya kebijakan penghapusan tidak naik kelas ini mendorong siswa untuk malas belajar.Pemahaman tersebut ditelan secara mentah seberapa jauh kemampuan anak dalam memahami materi tetap naik kelas.
“Tiap grade punya kemampuan minimal. Ada kekhawatiran kalau ada pemahaman yang keliru malah tidak mendorong anak untuk belajar dan tidak mendorong guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” jelas Pengamat pendidikan dari Perguruan Muhammadiyah, Muhammad Ali, saat ditemui  di ruang kerjanya, Selasa (3/12/2013).



Meski demikian, menurut Ali, sapaan akrabnya, persoalannya bukan pada naik atau tidaknya siswa SD melainkan seberasa besar sekolah memfasilitasi anak-anak untuk mandiri sekaligus mencerdaskan. Dalam membuat kebijakan, pemerintah harus memperhatikan tiga pilar pendidikan yakni pemerataan mutu pendidikan, perluasan akses pendidikan agar orang di daerah terpencil tetap bisa mengenyam pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan. “Tapi kalau semangat kompetitif berlebihan bisa mengurangi perluasan akses pendidikan,” imbuhnya.
Direktur Perguruan Muhammadiyah Kota Barat  tersebut menyayangkan adanya perubahan kebijakan pendidikan tanpa adanya desain makro. Menurutnya, kebijakan tersebut bergerak dari pendulum ekstrim yang satu ke pendulum ekstrim yang lain.
Hal itu membuat pelaku pendidikan di lapangan terombang-ambing. “Kebijakan baru tidak masalah kalau ada desain makro yang dinilai paling pas untuk diterapkan,” ujarnya. Menurutnya, negara maju dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia seperti Finlandia, Norwegia, Swedia, dan Denmark memiliki filosifi sama dalam sistem pendidikan dan tidak memiliki banyak aturan bagi siswa.
Pendidikan di negara-negara tersbeut tidak diarahkan pada kompetisi melainkan mendorong minat dan bakat anak-anak. Selain itu, suasana pembelajaran di kelas cenderung rileks dan tidak ada tekanan. “Ilmu pengetahuan menjadi mudah diserap ketika anak-anak mengikuti pelajaran di kelas tidak ada tekanan dan merasa rileks,” jelasnya. Menyikapi kebijakan Kemendikbud tersebut, Ali menekankan pentingnya peran guru dalam menentukan keberhasilan siswa. Namun, kondisi di Indonesia dinilai terjadi kemerosotan atau proletarisasi kualitas guru sehingga perlu adanya
seleksi yang ketat dalam pengangkatan guru. Seharusnya, proses seleksi guru dimulai sejak masuk kuliah dan setelah lulus kuliah. “Terutama di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di perguruan tinggi harus betul-betul menyeleksi
calon guru yang akan menjadi mahasiswanya.
Setelah lulus pun sebelum menjadi guru seharusnya menjalani proses magang selama setahun agar yang menjadi guru betul-betul orang pilihan,” paparnya.

Leukemia Limfositik Kronis

Leukemia Limfositik Kronis


DEFINISI


Leukemia Limfositik Kronik (LLK) ditandai dengan adanya sejumlah besar limfosit (salah satu jenis sel darah putih) matang yang bersifat ganas dan pembesaran kelenjar getah bening.Lebih dari 3/4 penderita berumur lebih dari 60 tahun, dan 2-3 kali lebih sering menyerang pria.Pada awalnya penambahan jumlah limfosit matang yang ganas terjadi di kelenjar getah bening. Kemudian menyebar ke hati dan limpa, dan keduanya mulai membesar.Masuknya limfosit ini ke dalam sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang normal, sehingga terjadi anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit di dalam darah.Kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan infeksi) juga berkurang.Sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh terhadap serangan dari luar, seringkali menjadi salah arah dan menghancurkan jaringan tubuh yang normal.Hal ini bisa menyebabkan:Penghancuran sel darah merah dan trombositPeradangan pembuluh darahPeradangan sendi (artritis rematoid)Peradangan kelenjar tiroid (tiroiditis).Beberapa jenis leukemia limfositik kronik dikelompokkan berdasarkan jenis limfosit yang terkena.Leukemia sel B (leukemia limfosit B) merupakan jenis yang paling sering ditemukan, hampir mencapai 3/4 kasus LLK.Leukemia sel T (leukemia limfosit T) lebih jarang ditemukan.Jenis yang lainnya adalah:- Sindroma S?zary (fase leukemik dari mikosis fungoides)- leukemia sel berambut adalah jenis leukemia yang jarang, yang menghasilkan sejumlah besar sel darah putih yang memiliki tonjolan khas (dapat dilihat dibawah mikroskop).


PENYEBAB


Penyebabnya tidak diketahui.


GEJALA


Pada stadium awal, sebagian besar penderita tidak memiliki gejala selain pembesaran kelenjar getah bening. Gejala yang timbul kemudian bisa berupa:LelahHilang nafsu makanPenurunan berat badanSesak nafas pada saat melakukan aktivitasPerut terasa penuh karena pembesaran limpa.Pada stadium awal, leukemia sel T bisa menyusup ke dalam kulit dan menyebabkan ruam kulit yang tidak biasa, seperti yang terlihat padasindroma S?zary. Lama-lama penderita akan tampak pucat dan mudah memar. Infeksi bakteri, virus dan jamur biasanya baru akan terjadi pada stadium lanjut.


DIAGNOSA


Kadang-kadang penyakit ini diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan hitung jenis darah untuk alasan lain.Jumlah limfosit meningkat sampai lebih dari 5.000 sel/mikroL.Biasanya dilakukan biopsi sumsum tulang.Hasilnya akan menunjukkan sejumlah besar limfosit di dalam sumsum tulang.Pemeriksaan darah juga bisa menunjukkan adanya:anemiaberkurangnya jumlah trombositberkurangnya kadar antibodi.


PENGOBATAN


Leukemia limfositik kronik berkembang dengan lambat, sehingga banyak penderita yang tidak memerlukan pengobatan selama bertahun-tahun sampai jumlah limfosit sangat banyak, kelenjar getah bening membesar atau terjadi penurunan jumlah eritrosit atau trombosit.Anemia diatasi dengan transfusi darah dan suntikan eritropoietin(obat yang merangsang pembentukan sel-sel darah merah).Jika jumlah trombosit sangat menurun, diberikan transfusi trombosit.Infeksi diatasi dengan antibiotik.Terapi penyinaran digunakan untuk memperkecil ukuran kelenjar getah bening, hati atau limpa.Obat antikanker saja atau ditambah kortikosteroid diberikan jika jumlah limfositnya sangat banyak.Prednison dan kortikosteroid lainnya bisa menyebabkan perbaikan pada penderita leukemia yang sudah menyebar. Tetapi respon ini biasanya berlangsung singkat dan setelah pemakaian jangka panjang, kortikosteroid menyebabkan beberapa efek samping.Leukemia sel B diobati denganalkylating agent, yang membunuh sel kanker dengan mempengaruhi DNAnya.Leukemia sel berambut diobati dengan interferon alfa dan pentostatin.


PROGNOSA


Sebagian besar LLK berkembang secara perlahan.Prognosisnya ditentukan oleh stadium penyakit.Penentuan stadium berdasarkan kepada beberapa faktor, seperti:- jumlah limfosit di dalam darah dan sumsum tulang- ukuran hati dan limpa- ada atau tidak adanyaanemia- jumlah trombosit.Penderita leukemia sel B seringkali bertahan sampai 10-20 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis dan biasanya pada stadium awal tidak memerlukan pengobatan.Penderita yang sangat anemis dan memiliki trombosit kurang dari 100.000/mikroL darah, akan meninggal dalam beberapa tahun.Biasanya kematian terjadi karena sumsum tulang tidak bisa lagi menghasilkan sel normal dalam jumlah yang cukup untuk mengangkut oksigen, melawan infeksi dan mencegah perdarahan.Prognosis leukemia sel T adalah lebih buruk.Sumber : www.medicastore.com

3 Des 2013

Tehnik Penilaian Pembelajaran Berbasis Masalah ( PBM )

Teknik penilaian dalam PBM

Sebetulnya tidak ada teknik penilaian khusus yang diperuntukkan dalam PBM. Hal yang penting bagi guru adalah dapat mengumpulkan informasi penilaian yang valid dan reliabel. Mengingat tujuan PBM bukan untuk pemerolehan sejumlah besar pengetahuan deklaratif, maka penilaian tidak cukup hanya melalui tes tertulis. Sesuai tujuan PBM, secara spesifik penilaian dalam PBM dapat ditujukan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah atau kemampuan berpikir kritis.


Penilaian kinerja dipandang cocok dalam PBM. Penilaian kinerja memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan bila dihadapkan pada situasi-situasi masalah nyata, sehingga dapat digunakan untuk mengukur potensi pemecahan masalah peserta didik di samping kemampuan kerja kelompok. Penilaian kinerja tersebut dilakukan dalam bentuk checklists dan rating scale.


PBM memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan sosial atau keterampilan kolaboratif melalui aktivitas diskusi. Keterampilan tersebut dapat meliputi keterampilan bekerja sama, keterampilan interpersonal, dan peran aktif dalam kesuksesan kelompok. Keterampilan tersebut dapat dinilai melalui observasi.